Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri memasuki ruang konferensi pers di Mabes Polri dengan wajah sumringah. “Allah memberikan yang terbaik di bulan Ramadhan ini. Ini adalah sesuatu yang membanggakan untuk anak-anak saya di lapangan,” katanya.

Kapolri kemudian menjelaskan kronologis penangkapan Noordin. Kepolisian menangkap seseorang bernama Bejo di Solo dan menginterogasinya. Kemudian Bejo memberikan keterangan tentang sebuah rumah di Solo. Rumah inilah yang kemudian dikepung oleh Densus 88.

“Tembak menembak kemudian terjadi hingga subuh, tidak ada wartawan yang diperbolehkan mendekat. Mereka kemudian berhasil dilumpuhkan, alhamdulillah Bagus Budi Pranoto alias Urwah pelaku pengeboman Kedubes Australia dilumpuhkan,” katanya. Menurut Kapolri, Urwah adalah ahli membuat bom.

Kedua, polisi berhasil melumpuhkan Susilo. Susilo adalah orang yang menyewa rumah di Solo. Ketiga adalah Aryo Sudarso alias Aji yang juga DPO yang selama ini sudah disebarkan kepolisian.

Kemudian ada satu orang selamat adalah istri Susilo bernama Munaroh. Saat ini Munaroh di RS Polri Kramat Jati. “Jenazah terakhir, ada 14 titik kesamaan yang bisa dipertanggungjawabkan secara yurudis formal. Identik dengan DPO yang selama 9 tahun dicari. Dia adalah Noordin M. Top,” katanya.

Menurut Kapolri, tes DNA telah berhasil dilakukan, namun hasilnya baru bisa didapat setelah 30 hari. Namun dari pemeriksaan sidik jari, sudah bisa dipastikan salah satu jenazah adalah Noordin.

Sebelumnya, Kapolri datang ke Istana Negara untuk melaporkan hasil penggrebekan di Solo kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Menurut reporter tvOne Paramitha Soemantri di Istana Negara, wartawan sempat mencegat Kapolri di istana untuk memastikan identitas korban yang tewas. “Ketika ditanya apakan Noordin sudah tewas, awalnya Kapolri ingin menyampaikannya di Mabes POLRI saja. Namun akhirnya dia menjawab ‘iya’ hingga tiga kali,” kata Paramita.

Sumber : TVone

Advertisements